Sebagai sebuah lembaga yang baru saja menapaki babak baru menjadi Institut pada tahun 2024, kami di Institut Muhammadiyah Darul Arqam (IMDA) Garut mengemban sebuah amanah besar. Kami percaya, transformasi ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan sebuah mandat untuk berkontribusi lebih nyata bagi pembangunan sumber daya manusia di Indonesia.
Dengan semangat itulah, kami, dipimpin oleh Rektor Ujang Burhanudin, mempersiapkan sebuah langkah strategis. Ikhtiar kami adalah membuka tujuh gerbang keilmuan baru—tujuh program studi yang kami yakini dapat menjawab tantangan zaman. Rencana ini meliputi satu program Magister (S2) Ekonomi Syariah, serta enam program Sarjana (S1) yang mencakup Manajemen Haji dan Umroh, Manajemen Zakat dan Wakaf, Pariwisata Syariah, Akuntansi Syariah, Tadris Matematika, serta Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Membawa visi besar ini, kami pun bertandang ke jantung pemerintahan di bidang keagamaan, Kantor Kementerian Agama di Jakarta. Misi kami jelas: memaparkan rencana pengembangan ini dan memohon arahan dalam audiensi bersama Bapak Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafi’i.
Pada hari yang telah ditentukan, kami diterima dengan hangat. Dalam pertemuan tersebut, kami memaparkan semangat dan alasan di balik pengajuan tujuh program studi ini. Kami sampaikan bahwa ini adalah bagian dari denyut nadi persyarikatan Muhammadiyah yang secara konsisten ingin berperan dalam pendidikan nasional.
Gayung pun bersambut. Bapak Wamenag menyambut ikhtiar kami dengan apresiasi yang mendalam. Beliau memandang langkah kami sebagai cerminan antusiasme untuk turut membangun bangsa, sejalan dengan semangat historis Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan.
Bagi kami, pernyataan beliau bahwa “tidak ada pembangunan bangsa yang dapat berjalan tanpa dukungan dunia pendidikan” adalah sebuah peneguhan atas arah yang kami tempuh. Dukungan dari Kementerian Agama untuk memperkuat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) menjadi energi pendorong yang luar biasa.
Tentu, apresiasi ini hadir bersama sebuah tanggung jawab profesional. Bapak Wamenag mengingatkan kami akan pentingnya menempuh seluruh tahapan administrasi dan memenuhi setiap persyaratan yang berlaku. Kami pun melaporkan bahwa proses tersebut tengah berjalan; tiga dari tujuh program studi telah menyelesaikan tahap asesmen, dan empat lainnya sedang kami perjuangkan untuk segera menyusul.
Kami meninggalkan pertemuan di Jakarta hari itu dengan semangat yang berlipat ganda. Apresiasi dan dukungan dari Kementerian Agama kami maknai sebagai lampu hijau untuk berlari lebih kencang, demi mewujudkan komitmen IMDA Garut dalam memperkuat mutu pendidikan tinggi Islam di Indonesia.



